01 April 2021

Contoh PTK Penelitian Tindakan Kelas IPS Kelas 6 SD Doc



BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.

Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang. Pendekatan kontekstual (contextual teaching learning/CTL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pengajaran kontekstual menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya ‘menghidupkan’kelas secara maksimal. Kelas yang ‘hidup’ diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang sedemikian cepat.

Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.

Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam persiapan itu sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evalasi.

Sementara itu teknologi pembelajaran adalah salah satu dari aspek tersebut yang cenderung diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan, terutama bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya manusia pendidikan, sarana dan prasarana pendidikanlah yang terpenting. Padahal kalau dikaji lebih lanjut, setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal apalagi tingkat Sekolah Dasar, haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan anak sebagai calon individu yang unik, sebagai makhluk sosial, dan sebagai calon manusia Indonesia.

Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar, guru senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran struktural dalam penyampaian materi dan mudah diserap peserta didik atau siswa berbeda.

Khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, maka proses pembelajaran kontektual, guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa.

Masalah keberhasilan dalam pembelajaran IPS merupakan masalah yang penting sebab menyangkut masa depan siswa, terutama siswa yang mengalami kesulitan belajar. Pendekatan-pendekatan cara belajar adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan memotivasi siswa dalam penguasaan siswa terhadap materi kompetensi dasar tertentu. Dalam hal ini guru dituntut bagaimana cara agar siswa dapat memahami materi dengan baik sehingga prestasi siswa dapat meningkat.

Sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Anwar Arifin:2003). Tujuan di atas dapat dicapai salah satunya melalui proses pembelajaran IPS.

Tujuan pembelajaran IPS menurut Kurikulum 2006 (KTSP) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut (Depdiknas, 2006:135)

1.      Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya;

2.      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial;

3.      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan;

4.      Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Dalam mencapai Tujuan Pembelajaran pada mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar, khususnya di SDN Pagowan 02 masih banyak mengalami kesulitan. Hal ini terlihat dari masih rendahnya nilai mata pelajaran IPS dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan. Bertitik tolak dari hal tersebut di atas perlu pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan yang harus dilalukan agar siswa dalam mempelajari konsep-konsep IPS tidak mengalami kesulitan, sehingga tujuan pembelajaran IPS dapat tercapai dengan baik dan hasilnya dapat memuaskan semua pihak.

Keadaan ini mendorong peneliti untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas berjudul “Pemanfaatan Media Pembelajaran Kartu Ateng Untuk  Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02 Tahun Pelajaran 2011/2012”, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya peningkatan prestasi belajar dan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep IPS yang ditunjukkan oleh adanya peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran dan peningkatan nilai ulangan hariannya.

 

B.     Rumusan Masalah

Hasil refleksi awal terhadap kualitas proses dan hasil belajar siswa mengindikasikan  berbagai  masalah yang  dialami oleh  sebagian  besar      siswa  yang bermuara pada   prestasi  belajar  siswa yang masih rendah. Namun karena berbagai keterbatasan yang ada pada penelitian maka masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini  dibatasi yaitu:

Apakah penggunaan media pembelajaran berupa Kartu Ateng dapat meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas VI  SDN Pagowan 02 Tahun Pelajaran 2011/2012?”

 

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02 menggunakan media pembelajaran berupa Kartu Ateng.

 

D.    Hipotesis Penelitian

Berdasarkan masalah yang diuraikan di atas maka dibuat hipotesis tindakan sebagai berikut :

1.      Bila menggunakan media pembelajaran berupa Kartu Ateng maka aktifitas siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02 akan semakin meningkat.

2.      Bila menggunakan media pembelajaran berupa Kartu Ateng maka hasil belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02 akan semakin meningkat.

 

E.     Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :

1.      Bagi Siswa:

    a)     Siswa lebih menyukai pelajaran IPS.

   b)     meningkatkan peran aktif dalam pembelajaran mata pelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.

    c)     Siswa lebih mudah dalam memahami konsep-konsep IPS.

   d)     Menumbuhkan sikap kritis pada siswa.

2.      Bagi guru :

    a)          Memberikan pengalaman merancang kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan media pembelajaran berupa Kartu Ateng.

   b)          Meningkatkan kemampuan guru untuk memecahkan permasalahan yang muncul dari siswa.

    c)          Meningkatkan kualitas proses dan hasil kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

   d)          Membantu memberikan informasi peningkatan kemampuan siswa.

    e)          Dapat meningkatkan minat guru untuk melakukan tindakan kelas.

3.      Bagi sekolah penelitian tindakan kelas ini diharapkan:

    a)          Meningkatkan mutu sekolah

   b)          Meningkatkan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat

    c)          Mendapatkan informasi baru tentang model pembelajaran

4.      Bagi pengembangan keilmuan, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat merupakan salah satu alternatif dalam mengelola kegiatan pembelajaran.

F.     Definisi Operasional

      Berikut ini diberikan penjelasan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini, antara lain :

1.      Meningkatkan adalah usaha untuk menaikkan hasil atau nilai.

2.      Motivasi belajar adalah merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapai suatu tujuan.

3.      Hasil belajar IPS adalah kemampuan siswa yang ditunjukkan oleh keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan hasil nilai ulangan hariannya.

4.      Aktifitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran dan perhatian yang ditunjukkan oleh kemampuan pengerjaan tugas secara berkelompok serta mengajukan pertanyaaan kepada guru.

5.      Media pembelajaran : alat yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/konkret dan memudahkan siswa dalam memahami suatu konsep.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.    Teori Belajar

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini, terdapat masalah-masalah yang memerlukan landasan teori saling terkait dan mendukung. Selain sebagai pedoman dalam pemecahan masalah pokok, landasan teori juga berfungsi sebagai kerangka kerja, yaitu untuk mengatur data dan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam rangka melakukan uji kebenaran hipotesis yang penulis rumuskan.

Belajar adalah suatu perbuatan yang dilakukan terus menerus sepanjang hidup manusia dan sesuatu yang harus dilakukan setiap manusia, sehingga belajar adalah memodifikasi atau memperteguh perilaku manusia melalui pengalaman (Witherington, 1982:11). Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (Gagne, 1984) dalam Ratna Wilis (1989:11).

Gagne (1984) dalam Ratna Wilis (1989:12) mengemukakan, bahwa ada lima bentuk belajar, yaitu; a) belajar responden, b) belajar kontinguitas, c) belajar operant, d) belajar observasional, e) belajar kognitif.

Benyamin S. Bloon dkk. dalam Saifuddin Azwar (2007:8) membagi belajar menjadi tiga bagian yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif dan kawasan psikomotor. Aspek kognitif meliputi pula abilitas aktual, yaitu abilitas yang telah diterjemahkan dalam bentuk performansi nyata. Performasi nyata disebut dengan prestasi yang merupakan fungsi dari abilitas potensial dan hasil belajar. Hampir semua ahli teori belajar, baik pengikut faham behaviorisme maupun kognitivisme, menekankan pentingnya umpan balik berupa nilai, guna meningkatkan belajar, (Thorndike, 1991 dalam Saifuddin Azwar, 1996:15).

Discrall (1994) dalam Haryono (2007) membagi teori belajar ke dalam tiga kelompok besar yaitu:

1.         Objektivisme adalah realitas aliran yang memandang realita secara objektif. Realitas adalah pembelajar harus menginterpretasikan ke dalam proses belajarnya dan bersifat tunggal serta terfragmentasi. Pengetahuan dalam pandangan ini diperoleh dari pengalaman.

2.         Interpretivisme menganggap bahwa realita merupakan hasil konstruksi manusia.

3.         Pragmatisme adalah menggabungkan antara objektivisme dan interpretivisme. Realitas dipandang dapat diinterpretasikan, dinegosiasikan dan merupakan konsus bersama. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman maupun hasil pemikiran.

Menurut Elliot 2000, Shnell 1986, Russel 1996 dan Molenda 2005, dalam Haryono (2007), Teori - teori belajar dikelompokkan ke dalam 4 kelompok besar yaitu ;

1.      Kognivisme

Kognitivisme didasarkan pada pemikiran yang terjadi di balik tingkah laku. Perubahan tingkah laku diamati dan digunakan sebagai indikator terhadap apa yang terjadi di dalam pembelajaran. Tokoh-tokoh yang berperan dalam perspektif ini antara lain Piaget, Ausubel, dan Bruner.

Kognitivisme lebih menekankan pada bagaimana pembelajar berpikir, memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Pandangan konstruktivisme mengembangkan model mental yang dikenal sebagai memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi-informasi baru akan disimpan di dalam memori jangka pendek dimana dengan pelatihan yang terus menerus akan disimpan di dalam memori jangka panjang. Pembelajar selanjutnya menggabungkan informasi dan ketrampilan di dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif atau ketrampilan untuk memecahkan permasalahan yang lebih komplek. Kognitivis mempunyai persepsi yang lebih luas tentang belajar dibanding dengan behavioris, pembelajar tidak terlalu tergantung dari petunjuk guru. Prinsip-prinsip dari perspektif kognitif ini adalah pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa.

2.      Konstruktivisme

Perspektif konstruktivis beranggapan bahwa pembentukan pengetahuan oleh pembelajar dilakukan secara aktif dan akan dihasilkan struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.

Siswa akan menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berpikir, bukan meniru. Pandangan konstruktivis bahwa manusialah yang membangun makna terhadap suatu realita. Implikasinya dalam pembelajaran bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Siswa sendirilah yang aktif secara mental dalam membangun pengetahuannya. Proses pembelajaran konstruktivis mempunyai ciri-ciri:

a.         Belajar berarti membentuk makna, makna dibentuk dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami.

b.         Konstruksi berarti proses pembentukan yang terus menerus.

c.         Belajar bukan hanya mengumpulkan fakta, namun merupakan pengembangan pikiran dengan membuat pengertian baru.

d.        Hasil belajar tergantung pada apa yang diketahui, tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan balikan yang dipelajari.

Henry E Garret dalam Syaiful Sagala (2005:13) berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Dimyati dan Mujiono (1994:295) menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan individu untuk memperoleh pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Dalam belajar, individu menggunakan ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Akibat belajar tersebut maka kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor bertambah baik.



Untuk File selengkapnya silahkan unduh link di bawah

DOWNLOAD DOC

DOC VIEW

0 Comments:

Posting Komentar