BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masalah pendidikan selalu menarik untuk diperbincangkan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan manusia sendiri yang menjadi objek kajiannya. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, pendidikan pun mengalami pergeseran yang cukup signifikan ditinjau dari segi proses pencapaian tujuannya. Hal tersebut berdampak pada kualitas pendidikan yang dituntut untuk selalu terintegrasi dengan keadaan zaman.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan agar dapat memainkan peranan dalam berbagai aspek lingkungan hidup secara tepat dimasa yang akan datang. Seperti dijelaskan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 menyebutkan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memeiliki kekuasaan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Salah satu materi pendidikan yang perlu untuk mendapat perhatian adalah pelajaran matematika. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh aktivitas kehidupan kita bersinggungan dengan matematika, sehingga perlu adanya penguasaan yang tepat terhadap bidang studi ini. Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari akan dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan kehidupan. Karena kondisi yang demikian pentingnya, maka matematika diberikan sejak anak memasuki bangku sekolah sejak kelas I sampai kelas XII (SMA). Namun demikian matematika masih kurang diminati anak didik baik di tingkat SD, SMP maupun SMA. Hal yang demikian perlu mendapatkan perhatian bagi guru untuk memperbaiki metode serta pendekatan dalam belajar mengajar sehingga anak didik merasa senang dan termotivasi untuk belajar matematika
Mata pelajaran Matematika umumnya dipandang sulit bagi siswa karena susah dimengerti, penuh dengan simbol dan pendekatan pembelajaran matematika yang kurang menarik. Hal ini mengakibatkan siswa cepat bosan dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa tidak maksimal. Hal ini pun terjadi pada siswa kelas 6 di SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber, dimana pada ulangan harian matematika tentang materi Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala dari 20 siswa hanya terdapat 6 siswa atau 30 % yang sudah mencapai nilai Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70) dengan nilai rata-rata 59,15
Dari hasil belajar siswa diatas perlu adanya penerapan metode pembelajaran yang diharapkan mampu melahirkan sebuah inovasi dalam pembelajaran matematika sehingga hasil belajar siswapun meningkat, salah satunya dengan penerapan metode Mind Map,
Metode Mind Map adalah cara terbaik untuk mendapatkan ide baru dan merencanakan proyek. Mind Map adalah bentuk penulisan catatan yang penuh warna dan bersifat visual, yang bisa dikerjakan oleh satu orang atau sebuah tim terdiri atas beberapa orang. Di pusatnya terdapat sebuah gagasan atau gambaran sentral. Kemudian gagasan utama ini dieksplorasi melalui cabang-cabang yang mewakili gagasan-gagasan utama, yang kesemuanya terhubung pada gagasan sentral ini. Disetiap cabang gagasan utama ada cabangcabang “sub-gagasan” yang mengeksplorasi tema-tema tersebut secara lebih mendalam
Sejalan dengan latar belakang masalah tersebut di atas maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK) judul “Penerapan Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala Menggunakan metode Mind Map Pada Siswa Kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2017/2018”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam Penelitian Tindakan kelas ini adalah Penerapan Metode Mind Map dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala Pada Siswa Kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2017/2018 ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala Pada Siswa Kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2017/2018
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a. Meningkatnya hasil belajar matematika tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala
b. Meningkatkan kreativitas siswa, karena dibutuhkan kemampuan untuk mengkreasikan catatan dalam Metode Pembelajaran Mind Map
2. Bagi Guru
a. Mendapatkan strategi pembelajaran Matematika dengan metode pembelajaran “Mind Map” sebagai suatu alternatif dalam upaya mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa
b. Mendapatkan pendekatan pembelajaran yang efektif dan efisien dalam pembelajaran Matematika
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan dan kontribusi positif bagi sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat dijadikan model pembelajaran oleh guru tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Oemar Hamalik (2006: 30) mengemukakan hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Winkel (Purwanto 2010: 45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Nana Sudjana (2006: 22) mendefinisikan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Howard Kingsley (Nana Sudjana, 2006: 22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Gagne (Nana Sudjana, 2006: 22) membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris. Benyamin Bloom (Nana Sudjana, 2006: 22) mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu (a) ranah kognitif, (b) ranah afektif, dan (c) ranah psikomotoris.
Hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang diukur dan diamati dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan pengembangan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Adapun hasil yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yaitu :
a. Ranah Kognitif
Ranah ini mencakup pengenalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.
Lorin W. Anderson (2010: 100) menyatakan bahwa ada 6 kategori dalam proses kognitif, yaitu :
1) Mengingat. Proses mengingat adalah mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang.
2) Memahami. Memahami adalah mengkonstruksi makna dari materi pembelajaran, termasuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru.
3) Mengaplikasikan. Mengaplikasikan adalah menerapkan atau menggunakan suatu prosedur dalam keadaan tertentu.
4) Menganalisis. Menganalisis adalah memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan hubungan-hubungan antarbagian itu dan hubungan antara bagian-bagian tersebut dan keseluruhan struktur atau tujuan.
5) Mengevaluasi. Mengevaluasi adalah mengambil keputusan berdasarkan kriteria dan/atau standar.
6) Mencipta. Mencipta adalah memadukan bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang baru dan koheren atau untuk membuat suatu produk yang orisinil
b. Ranah Apektif
Ranah ini mencakup pandangan atau pendapat, sikap atau nilai. Slameto (2003: 188) menyatakan bahwa sikap merupakan sesuatu yang dipelajari, dan sikap menentukan bagaimana individu berinteraksi terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari individu dalam kehidupan. Sikap merupakan kecenderungan dalam melakukan suatu tindakan sesuai dengan kondisi perasaan atapun pengetahuan yang dimilki. Sikap diperoleh melalui proses seperti pengalaman dan pembelajaran. Pembelajaran dalam hal ini yaitu Matematika
Shigeo Katagiri (2004: 10) menggolongkan sikap-sikap dalam Matematika, yaitu:
1) Berusaha memahami persoalan atau substansi persoalan matematika secara mandiri.
a) Berusaha untuk bertanya.
b) Berusaha untuk memahami persoalan.
c) Berusaha menemukan masalah matematika dari kehidupan sehari-hari
2) Berusaha mengambil tindakan logis.
a) Berusaha untuk memperoleh kompetensi matematika.
b) Berusaha memahami sifat-sifat matematika.
c) Berusaha untuk berpikir berdasarkan data yang dapat digunakan, yang sebelumnya telah dipelajari, dan asumsi
3) Berusaha menyatakan berbagai hal dengan jelas dan ringkas.
a) Berusaha untuk merekam dan mengkomunikasikan masalah dengan hasil yang jelas dan ringkas.
b) Berusaha berpikir secara sistematis.
4) Berusaha untuk mencari berbagai hal yang lebih baik.
a) Berusaha untuk memahami matematika dari yang konkret menuju abstrak.
b) Berusaha berpikir secara objektif dan subjektif dan berpikir kritis.
c) Berusaha memanfaatkan pikiran dan usahanya yang telah didapat.
c. Ranah Psikomotorik
Ranah ini mencakup keterampilan dan kemampuan. Simpson (Purwanto, 2010: 53) mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam tingkatan, yaitu:
1) Persepsi (perception) adalah kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala lain.
2) Kesiapan (set) adalah kemampuan menempatkan diri untuk memualai suatu gerakan.
3) Gerakan terbimbing (guided response) adalah kemampuan melakukan gerakan meniru model yang dicontohkan.
4) Gerakan terbiasa (mechanism) adalah kemampuan melakukan gerakan tanpa ada contoh.
5) Gerakan kompleks (adaptation) adalah kemampuan melakukan serangkaian gerakan dengan cara, urutan dan irama yang tepat.
6) Kreativitas (origination) adalah kemampuan menciptakan gerakan-gerakan yang ada menjadi kombinasi gerakan baru yang orisinal
Berdasarkan paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan dan perubahan tingkah laku yang dimiliki seseorang setelah mengalami suatu proses pembelajaran. Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan sejumlah tingkat kognitif, afektif dan psikomotor pada peserta didik berupa perubahan tingkah laku setelah mencapai penguasaan sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar.
2. Faktor yang mempengaruhi Belajar
Slameto (2010:54) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu. Faktor intern belajar terdiri dari faktor Jasmaniah, faktor Psikologis, dan faktor kelelahan. Sementara faktor ekstern belajar terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Menurut Muhibbinsyah (Sugihartono, 2007:77) ada 3 macam faktor yang mempengaruhi belajar.
a. Faktor internal yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa.
b. Faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa.
c. Faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi pembelajaran.
Dalam Penelitian ini faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah faktor internal yang mencakup kondisi siswa dan faktor pendekatan belajar yang dalam hal ini digunakan metode Mind Map.
B. Metode Mind Map
1. Pengertian Mind Map
Menurut Tony Buzan (2004:6) Mind Map adalah bentuk penulisan catatan yang penuh warna dan bersifat visual, yang bisa dikerjakan oleh satu orang atau sebuah tim terdiri atas beberapa orang. Di pusatnya terdapat sebuah gagasan atau gambaran sentral. Kemudian gagasan utama ini dieksplorasi melalui cabang-cabang yang mewakili gagasan-gagasan utama, yang kesemuanya terhubung pada gagasan sentral ini. Disetiap cabang gagasan utama ada cabang-cabang “sub-gagasan” yang mengeksplorasi tema-tema tersebut secara lebih mendalam. Dan pada cabang-sub-gagasan ini anda dapat menambahkan lebih banyak sub-cabang, sambil terus mengeksplorasi gagasan secara lebih mendalam lagi. Faktor ini membuat Mind Map memiliki ruang lingkup yang dalam dan luas, yang tidak dimiliki oleh daftar gagasan biasa
Iwan Sugiarto (2004:75) menerangkan bahwa Mind Map (peta pemikiran) merupakan suatu metode pembelajaran yang sangat baik digunakan oleh guru untuk meningkatkan daya hafal siswa dan pemahaman konsep siswa yang kuat, siswa juga dapat meningkatkan daya kreatifitas melalui kebebasan berimajinasi. Lebih lanjut Iwan Sugiarto (2004:76) menerangkan bahwa Mind Map (peta pemikiran) adalah eksplorasi kreatif yang dilakukan oleh individu tentang suatu konsep secara keseluruhan, dengan membentangkan subtopik-subtopik dan landasan yang berkaitan dengan konsep tersebut dalam satu presentasi utuh pada selembar kertas, melalui penggambaran symbol, kata-kata, garis, dan tanda panah
Menurut Tony Buzan, (2004:68) Mind Map (peta pemikiran) adalah metode untuk menyimpan suatu informasi yang diterima oleh seseorang dan mengingat kembali informasi yang diterima tersebut. Mind Map (peta pemikiran) juga merupakan teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dam memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya. Mind Map (peta pemikiran) merupakan satu bentuk metode pembelajaran yang efektif untuk memahami kerangka konsep suatu materi pelajaran
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa metode Mind Map (peta pemikiran) adalah metode yang dirancang oleh guru untuk membantu proses belajar siswa, menyimpan informasi berupa materi pelajaran yang diterima oleh siswa, dan membantu siswa menyusun inti-inti yang penting dari materi pelajaran kedalam bentuk peta atau grafik
2. Kelebihan Mind Map
Menurut Tony Buzan (2005:71-72) manfaat atau kelebihan Mind Map adalah :
a. Memberi Tinjauan menyeluruh atas sebuah subjek.
b. Membuat mampu merencanakan rute serta arah dan keberadaan.
c. Menghimpun dan menyimpan sejumlah data.
d. Mendukung proses pemecahan masalah dengan jalan baru yang kreatif.
e. Membuat bersikap sangat efisien.
f. Enak dilihat, dibaca, direnungkan dan diingat.
g. Menarik dan menahan perhatian mata atau otak.
Menurut Miyazaki Annisha (2012) kelebihan Mind Map antara lain:
a. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas
b. Dapat bekerjasama dengan teman lainnya
c. Catatan lebih padat dan jelas
d. Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan
e. Catatan lebih focus pada inti materi
f. Mudah melihat gambaran keseluruhan
g. Membantu otak untuk mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
h. Memudahkan penambahan informasi baru
i. Pengkajian ulang bisa lebih cepat
j. Setiap peta bersifat unik
Menurut Yovan (Mahmudin, 2009) keutamaan metode Mind Map antara lain:
a. Tema utama terdefinisi secara sangat jelas karena dinyatakan ditengah
b. Level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik
c. Hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat dikenali
d. Lebih mudah dipahami dan diingat
e. Informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan Mind Map sehingga mempermudah proses pengingatan
f. Masing-masing Mind Map sangat unik, sehingga mempermudah proses pengingatan
g. Mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci
Dengan berbagai pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa kelebihan Mind Map antara lain; (1) catatan lebih padat, jelas dan terfokus pada inti materi, (2) tema utama terdefinisi secara sangat jelas karena dinyatakan ditengah, (3) mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci, (4) level keutamaan informasi terdefinisi secara lebih baik, (5) informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan struktur Mind Map, sehingga mempermudah proses mengingat, (6) Enak dilihat, dibaca, direnungkan dan diingat dan (7) Menarik dan menahan perhatian mata atau otak
3. Langkah-langkah penggunaan Mind Map
Langkah-langkah penggunaan Mind Map menurut Tony Buzan (2007 : 10) adalah :
a. Pergunakan selembar tanpa garis dan beberapa pulpen berwarna.
b. Buatlah sebuah gambar yang merangkum subjek utama di tengah tengah kertas.
c. Buatlah garis tebal berlekuk-lekuk yang menyambung gambar ditengah kertas, masing-masing untuk setiap ide utama yang ada mengenai subjek dimana cabang-cabang utama tersebut melambangkan topik utama.
d. Beri nama pada setiap ide tersebut.
e. Dari setiap ide ditarik garis penghubung yang menyebar seperti cabang pohon.
Adapun langkah-langkah penggunaan Mind Map dalam penelitian ini adalah :
a. Siswa menggunakan kertas putih tanpa garis dan alat tulis.
b. Siswa membuat gambar dan tulisan sebagai subjek utama di tengah-tengah kertas.
c. Siswa membuat garis berlekuk yang menyambung subjek utama, dan memberi nama pada setiap lekuk garis yang dibuat tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala.
C. Pembelajaran Matematika di SD
1. Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah proses atau kegiatan yang dirancang untuk menciptakan interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pembelajaran matematika merupakan proses di mana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Hal tersebut sesuai dengan hakikat matematika sekolah yang menurut Ebbut dan Straker (Marsigit 2011:5) adalah sebagai berikut.
a. Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan.
Pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran Matematika adalah:
1) Memperoleh kesempatan untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan matematika,
2) Memperoleh kesempatan untuk melakukan percobaan matematika dengan berbagai cara,
3) Memperoleh kesempatan untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dalam matematika,
4) Memperoleh kesempatan untuk menarik kesimpulan umum (membuktikan rumus),
5) Memahami dan menemukan hubungan antara pengertian matematika yang satu dengan yang lainnya.
b. Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intusisi dan penemuan.
Pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran Matematika adalah:
1) Mempunyai inisiatif untuk mencari penyelesaian persoalan matematika.
2) Mempunyai rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan.
3) Menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal bermanfaat.
4) Berusaha menemukan struktur dan desain matematika.
5) Menghargai penemuan siswa yang lainnya.
6) Mencoba berfikir refleksif, yaitu mencari manfaat matematika.
7) Tidak hanya menggunakan satu metode saja dalam menylesaikan matematika.
c. Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving).
Pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran Matematika adalah:
1) Diperlukan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika.
2) Memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri,
3) Mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika.
4) Memerlukan kegiatan berpikir logis, konsisten, sistematis dan membuat catatan.
5) Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan matematika.
6) Mempelajari cara menggunakan berbagai alat peraga matematika seperti : jangka, kalkulator, penggaris, busur derajat, dsb.
d. Matematika sebagai alat komunikasi.
Pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran Matematika adalah:
1) Berusaha mengenali dan menjelaskan sifat-sifat matematika.
2) Berusaha membuat contoh-contoh persoalan matematika sendiri.
3) Mengetahui alasan mengapa siswa perlu mempelajari matematika.
4) Mendiskusikan penyelesaian soal-soal matematika dengan teman yang lain.
5) Mengerjakan contoh soal dan soal-soal matematika.
6) Menjelaskan jawaban siswa kepada teman yang lain
2. Tujuan Pembelajaran Matematika
Tujuan pembelajaran Matematika menurut Arini (2008) adalah:
a. Melatih cara berpikir dan menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif dalam memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merencanakan model Matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Dalam Kurikulum tahun 2006 tujuan dari pelajaran Matematika adalah sebagai berikut :
a. Memahami Konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dala pemecahan masalah.
b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, sertasikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dari berbagai pendapat mengenai pengembelajaran Matematika, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Matematika merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan pendidik dan peserta didik secara aktif untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan matematika
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Dsain dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK). Wina Sanjaya (2009:26) PTK diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. Selanjutnya Suharsimi Arikunto (2007:3) Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi di dalam sebuah kelas secara bersama.
Dari pengertian Penelitian Tindakan Kelas di atas, Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui metode Mind Map. Artinya dalam penelitian ini terdapat proses kegiatan guru dan siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala ke arah yang lebih baik.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian Tindakan Kelas ini di laksanakan di ruang kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2017/2018
C. Waktu Penelitian
Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari Tahun 2018 Tahun pelajaran 2017/2018 untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel 1 di bawah ini
Tabel 1
Waktu Penelitian
No Tanggal Siklus Mata Pelajaran Materi
1 Selasa, 13 Februari 2018 Siklus I Matematika Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala
2 Selasa, 20 Februari 2018 Siklus II Matematika Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala
D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, yang berjumlah 20 siswa, yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan
E. Tehnik Pengumpulan Data
Suharsimi Arikunto, (2005:100) teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan 3 macam yaitu observasi, tes dan dokumentasi.
1. Observasi
Nana Syaodih Sukmadinata (2005:220) observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Instrumen yang digunakan selama pengamatan adalah lembar observasi yang berisi kisi-kisi pengamatan agar pencatatan pengamatan lebih sistematis. Lembar observasi meliputi pengamatan terhadap siswa berbagai aktivitas belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas
2. Tes
Suharsimi Arikunto (2006:150) Tes adalah serentetan pertanyaan atau pelatihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Instrumen ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa melalui kegiatan penilaian proses yang dilakukan setiap akhir siklus penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara untuk mengumpulkan data dengan benda-benda tertulis maupun tidak tertulis (Suharsimi Arikunto, 2006: 158-159). Dokumen merupakan catatan peristiwa bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang. Dokumen dalam penelitian ini dijadikan sebagai bukti hasil dari penelitian. Dokumentasi dilakukan dengan cara mengambil foto siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
F. Teknik Analisis Data
Wina Sanjaya (2011: 106) mengemukakan bahwa menganalisis data adalah suatu proses mengolah dan menginterpretasi data dengan tujuan untuk mendudukkan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya hingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai dengan tujuan penelitian.
Suharsimi Arikunto (2006: 239) menjelaskan bahwa analisis data penelitian ada dua macam yaitu analisis data deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis data yang berupa angka-angka untuk menganalisis hasil tes, sedangkan deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang berupa kata-kata atau informasi yang berbentuk kalimat pada lembar observasi.
Adapun penyajian data yang dipaparkan dalam bentuk persentase (Sudjana, 2001:129) , Adapun persentase tersebut sebagai berikut :
P = x 100 %
Keterangan :
P = Presentase Frekuensi
f = Jumlah Frekuensi yang muncul
n = Jumlah total siswa
Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa yang dikelompokkan ke dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas dengan kriteria sesuai tabel 2
Tabel 2.
Kriteria Ketuntasan Minimal dan Prosentase Ketuntasan Pembelajaran
Kriteria Ketuntasan Minimal Prosentase Ketuntasan Pembelajaran
70 70 %
G. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Lembar soal evaluasi: Peneliti akan memberikan lembar evaluasi untuk masing-masing siswa.
2. Lembar Pengamatan
Lembar pengamatan dapat dilihat pada table di bawah ini :
Tabel 3
Lembar Pengamatan Terhadap Kinerja Guru
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas / Semester : VI (Enam) / II
Fokus Observasi : Penggunaan Metode Mind Map Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala
No Aspek yang diobservasi Kemunculan **) Komentar
Ada Tidak Ada
1 Penjelasan Konsep oleh guru
2 Pemberian Contoh
3 Pemberian Latihan
4 Penggunaan Alat Peraga
5 Penggunaan Metode
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya Jawab
d. Mind Map
e. Tugas / Latihan
6 Penggunaan konsep/ hasil belajar
7 Aktivitas Siswa
a. Menyatakan pendapat
b. Mengajukan pertanyaan
c. Mengerjakan tugas dengan baik
d. Menunjukkan antusias dalam pembelajaran
H. Prosedur penelitian
Penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Model Kemmis & McTaggrat yang terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting) selama dua siklus pembelajaran.
1. Planning (Perencanaan)
Dalam tahap ini, peneliti menjelaskan apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tersebut dilakukan Perencanaan dalam penelitian ini meliputi:
a. Peneliti menentukan cara meningkatkan hasil belajar siswa dengan penerapan metode Mind Map dalam pembelajaran Matematika.
b. Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
c. Peneliti menyiapkan lembar observasi mengenai aktivitas guru dan siswa selama mengikuti pembelajaran
2. Acting (Tindakan)
Tindakan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu menggunakan tindakan kelas. Guru harus ingat dan menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan tetapi harus berlaku wajar dan tidak dibuat-buat. Pelaksana tindakan pada penelitian ini adalah guru kelas dan peneliti sebagai pengamat.
3. Observing (Pengamatan)
Observasi (pengamatan) dilakukan oleh peneliti selama pembelajaran Matematika berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pengamatan dalam proses kegiatan pembelajaran menggunakan metode mind map pada Pembelajaran Matematika dilakukan oleh peneliti. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang akan diolah untuk menentukan tindakan yang akan dilaksanakan peneliti selanjutnya.
4. Reflecting (Refleksi)
Refleksi merupakan kegiatan untuk melihat berbagai kekurangan yang dilaksanakan guru untuk selanjutnya mengenali hal-hal yang masih perlu dilakukan pada siklus berikutnya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Siklus I
a. Perencanaan
Sebelum pelaksanaan tindakan menggunakan Metode Mind Map, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan instrumen yang akan digunakan dalam pelaksanaan tindakan. Adapun hal-hal yang peneliti lakukan antara lain:
1) Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang materi Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala yang akan diajarkan pada siklus I sesuai Metode Mind Map.
2) Mempersiapkan LKS yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran.
3) Menyusun tes akhir siklus I untuk mengetahui hasil belajar setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan Metode Mind Map.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Februari 2018 Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan yang telah disusun sebelumnya, yaitu dengan menerapkan Metode Mind Map.
Pertemuan pada siklus I diawali dengan pengarahan guru (peneliti) Pada pertemuan ini, guru menginformasikan tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran dengan menggunakan metode Mind Map. Kemudian peneliti menjelaskan materi tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala. Materi ini disampaikan menggunakan metode Mind Map. Siswa berkreasi dalam mencatat materi pembelajaran Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala menggunakan metode Mind Map. Catatan Mind Map siswa satu sama lain berbeda tergantung kreativitasnya masing-masing. Selanjutnya siswa mengerjakan LKS yang diberikan Guru (peneliti). siswa melakukan Tanya jawab materi tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala yang telah dibahas pada sebelumnya. Setelah itu, peneliti memberikan soal evaluasi siklus I dan meminta siswa untuk mengerjakannya.
c. Pengamatan / Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti (guru) dengan bantuan teman sejawat. Hal ini bertujuan agar hasil pengamatan menjadi lebih akurat. Sesuai dengan tujuan penelitian, dengan lembar observasi maka pengamatan difokuskan pada:
1) Penjelasan konsep oleh guru
2) Pemberian contoh
3) Pemberian latihan
4) Penggunaan alat peraga
5) Penerapan metode pembelajaran terutama metode Mind Map
6) Penggunaan konsep (hasil belajar)
7) Aktivitas Siswa (menyatakan pendapat, mengajukan pertanyaan, mengerjakan tugas dengan baik, dan Menunjukkan antusias dalam pembelajaran)
d. Refleksi
Setelah dilaksanakan perencanaan dan pelaksanaan dilakukan Refleksi terhadap pembelajaran Matematika menggunakan metode Mind Map. Refleksi merupakan analisis kendala dan permasalahan yang ditemukan di siklus I agar dalam siklus II dapat diatasi dengan perencanaan yang dapat mengatasi masalah tyang ditemukan. Adapun permasalahan-permasalahan yang muncul ketika dilaksanakan tindakan siklus I antara lain:
1) Siswa merasa takut dan malu bertanya dan menyampaikanbjawabannya. Hanya ada beberapa siswa yang aktif menjawabbpertanyaan dan siswa lain hanya bersedia jika ditunjuk oleh guru.
2) Siswa merasa bosan karena harus terus memperhatikan papan tulisbdan tidak aktif dalam proses pembelajaran
3) Siswa belum cukup memahami konsep-konsep materi yang diajarkan.
4) Siswa kurang tertarik dengan catatan Mind Map yang di berikan peneliti.
5) Hasil evaluasi pada siklus I belum menunjukan hasil yang sesuai dengan target yang diinginkan, dimana dari 20 siswa hanya 13 atau 65 % siswa dikatakan sudah tuntas. Dengan nilai rata-rata 68,75
Berdasarkan refleksi di atas, peneliti (guru) melakukan perbaikan pembelajaran. Adapun alternatif tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut:
1) Guru melakukan pendekatan dengan siswa dan selalu memberikan motivasi, arahan dan perhatian kepada siswa
2) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat catatan sendiri dengan pengoptimalan Metode Mind Map
3) Guru menyampaikan materi dengan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti siswa, sehingga siswa benar-benar mengerti konsep dasar dalam materi Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala
2. Siklus II
a. Perencanaan
Sebelum pelaksanaan tindakan menggunakan Metode Mind Map, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan instrumen yang akan digunakan dalam pelaksanaan tindakan. Adapun hal-hal yang peneliti lakukan antara lain:
1) Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang materi Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala yang akan diajarkan pada siklus II sesuai Metode Mind Map.
2) Mempersiapkan LKS yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran.
3) Menyusun tes akhir siklus II untuk mengetahui hasil belajar setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan Metode Mind Map.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus II dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Februari 2018 Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan yang telah disusun sebelumnya, yaitu dengan menerapkan Metode Mind Map.
Pertemuan pada siklus II diawali dengan pengarahan guru (peneliti) Pada pertemuan ini, guru menginformasikan tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran dengan menggunakan metode Mind Map. Kemudian peneliti menjelaskan materi tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala. Materi ini disampaikan menggunakan metode Mind Map. Siswa berkreasi dalam mencatat materi pembelajaran Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala menggunakan metode Mind Map. Catatan Mind Map siswa satu sama lain berbeda tergantung kreativitasnya masing-masing. Selanjutnya siswa mengerjakan LKS yang diberikan Guru (peneliti). Siswa melakukan Tanya jawab materi tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala yang telah dibahas pada sebelumnya. Setelah itu, peneliti memberikan soal evaluasi siklus II mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I
c. Pengamatan / Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti (guru) dengan bantuan teman sejawat. Hal ini bertujuan agar hasil pengamatan menjadi lebih akurat. Sesuai dengan tujuan penelitian, dengan lembar observasi maka pengamatan difokuskan pada:
1) Penjelasan konsep oleh guru
2) Pemberian contoh
3) Pemberian latihan
4) Penggunaan alat peraga
5) Penerapan metode pembelajaran terutama metode Mind Map
6) Penggunaan konsep (hasil belajar)
7) Aktivitas Siswa (menyatakan pendapat, mengajukan pertanyaan, mengerjakan tugas dengan baik, dan Menunjukkan antusias dalam pembelajaran)
d. Refleksi
Setelah tindakan yang dilakukan pada siklus II berakhir, peneliti (guru) mengkaji kembali data yang telah diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung. Pada siklus II ini guru lebih mendekatkan diri dengan siswa dan selalu memberikan motivasi, arahan, dan perhatian kepada siswa. Dengan cara ini, siswa menjadi tidak malu lagi untuk bertanya kepada guru terjalin kedekatan antara siswa dengan guru, dan dengan pengoptimalan penerapan metode mind map, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I, dimana pada siklus II dari 20 siswa, terdapat seluruhnya atau 100 % siswa sudah mencapai target yang diinginkan oleh peneliti dengan berpedoman pada kreteria ketuntasan minimal 70 dan ketuntasan pembelajaran 70 %
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis pada data akhir siklus I diperoleh rata-rata hasil belajar matematika kompetensi mengidentifikasi sifat-sifat Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala sederhana sebesar 68,75. Angka ini memang belum menunjukkan nilai ketuntasan yang ditentukan, yaitu 70. Akan tetapi dari 20 siswa, terdapat 13 siswa atau 65% siswa sudah mencapai nilai ketuntasan. Pada siklus I perhatian siswa belum sepenuhnya fokus ketika pembelajaran berlangsung. Ketika diminta untuk bertanya atau mengemukakan pendapat oleh guru beberapa siswa cenderung diam karena malu. Bahkan ketika pembelajaran berlangsung ada sebagian anak yang berbuat gaduh dikelas sehingga mengganggu teman yang lain.
Hasil analisis data pada akhir siklus II diperoleh rata-rata hasil matematika kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala sederhana sebesar 82,75. Dari 20 siswa, semuanya (100%) dinyatakan tuntas pada kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala sederhana kelas VI semester 2 di SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibebeber Kabupaten Lebak. Dalam siklus II, terjadi peningkatan kualitas ketika pembelajaran berlangsung. Pada siklus I yang cenderung tidak fokus terhadap pembelajaran, di siklus II ini mereka menunjukkan minat yang bagus terhadap pembelajaran. Siswa lebih aktif dalam bertanya kepada guru, dan terjadi lebih sedikit kegaduhan di kelas sewaktu pembelajaran berlangsung di siklus II ini dibanding siklus I.
Dari hasil-hasil tersebut di atas, terbukti bahwa Penerapan Metode Mind Map dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala Pada Siswa Kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2017/2018.
.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari penelitian dan pembahasan yang dilakukan tentang Penerapan Metode Mind Map Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala Pada Siswa Kelas VI SDN 2 Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2017/2018, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan, hal ini terlihat dari hasil evaluasi setiap siklusnya, dimana dari 20 siswa pada siklus I hanya terdapat 13 siswa atau 65 % dengan nilai rata-rata 68,75. Sementara pada siklus II mengalami peningkatan terdapat seluruhnya atau 100 % siswa dikatakan sudah mencapai nilai ketuntasan dengan nilai rata-rata 82,75
B. Saran
Berdasar kesimpulan di atas, beberapa saran yang dapat disampaikan antara lain:
1. Diharapkan kepada guru kelas supaya menggunakan metode Mind Map agar dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran, terutama pembelajaran matematika dengan materi pokok Memecahkan Masalah Perbandingan Dan Skala.
2. Pembelajaran menggunakan Mind Map membutuhkan kreativitas yang tinggi. Oleh karena itu guru harus berlatih secara berkesinambungan dalam penggunaan metode Mind Map terutama dalam pembelajaran Matematika.
0 Comments:
Posting Komentar